Pramoedya pernah bertanya:
Mengapa taplak dikenakan di kepala?
Apa dia tidak tahu itu jilbab
Bodoh sekali dia sebagai penulis ternama
Tapi kalau dia bodoh
kenapa bisa masuk penjara
Tapi kalau otaknya bebal,
kenapa menjadi calon penerima Nobel
Atau mungkin dia seorang sufi
Yang terusik melihat kekerdilan hati
Menyaksikan bukan aurat tetapi ditutup rapat
Tak berani lepas menampilkan jati diri
Memandang agama seperti tirani
Atau mungkin dia seorang bijak
Yang terpanggil mengingatkan: Itu tak layak!
Pelindung hempasan pasir wanita gurun
Mengganti terawang kerudung wanita anggun
Memerkosa warisan budaya turun-temurun
Atau mungkin dia budayawan sejati
Yang mempertanyakan seni keindahan diri
Ketika menyaksikan mahkota wanita
Unsur kecantikan karunia Sang Pencipta
Diikat mampat, kusam dikafani
Atau mungkin dia seorang negarawan
Yang khawatir, propaganda dogma telah dilansir
Mengancam eksistensi bangsa yang berdaulat dan bermartabat
Ketika simbol-simbol kelompok eksklusif lebih menonjol
Daripada semangat pluralistik yang perlu dikembangkan
Atau,
Mungkin dia iri
Melihat pembaruan telah terjadi
Wanita muslim berbusana ala biarawati
Menjadi pelayan-pelayan Tuhan, duta religi
Yang pasti dia pemikir, yang karyanya mendunia
Yang jelas, dia sengaja mencari gara-gara
Kalau begitu pasti dia orang yang pintar
Melempar pernyataan agar otak diputar
Selasa, 04 Februari 2014
Sabtu, 01 Februari 2014
Dosa Apa Aku, Ya Tuhan...
Seumur-umur, belum pernah namanya ikut kompetisi yang melibatkan
kecantikan. Pertama, karena saya memang tidak merasa cantik; kedua, ah, tidak
kepengen. Dan baru sekali juga yang namanya kompetisi karya tulis menjadikanku
repot berkepanjangan. Bayangkan, pokoknya dari awal sudah tidak nabsuuu.
Yang
kusesali ketika usai babak penyisihan, talent show, ya ampun... Memalukan
sekali... Harusnya pertunjukan itu sangat spektakuler, karena aku tak
menyiapkan apapun selain pertunjukan itu. Busana, sepatu, dan lain-lain adalah
urusan teman-teman komplek. Aku berlatih siang malam, eeeeeeeeeee malah
operator salahhhh memutar backsoundnya.
Tak habis
pikir atas kejadi itu. Baru kali ini ikut lomba tanpa minta doa orang tua.
Biasanya, lomba sekecil apapun aku selalu bilang pada ibu dan meminta doanya.
Eh
lebayee, ini hanya kompetisi pondok. Dan mungkin hanya sekedar hiburan semata.
Tapi tetap saja, sekali memalukan tetap memalukan. Dan lebih memalukan kalau
aku cerita ini pada ibuku. AAAaaaa, gak mau gak mauuu... Dosa apa aku, Ya Tuhan
(kalau ibuku tau).
Satu hal
yang aku suka dari kompetisi ini adalah ketika aku didandani. Udah, itu to’.
Sekian, terimakasih. Cukup sekali dan tidak mau lagi.
Kamis, 30 Januari 2014
Resensi Cerpen "GOLOK"
GOLOK
Berdakwah
merupakan tugas wajib bagi setiap umat Islam dimana pun dan kapan pun. Dua
komponen dakwah yang paling utama adalah menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran. Setiap orang bisa saja menyuruh kepada kebaikan namun jarang yang
berani mencegah kemungkaran. Rasulullah bersabda, “Barang siapa melihat suatu
kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, apabila tidak sanggup maka rubahlah
dengan lisanmu, apabila tidak sanggup maka rubahlah dengan hatimu (doa). Dan itu
adalah selemah-lemahnya iman”. Sebelum menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
kemungkaran, ada satu tugas berat yang harus dilakukan yaitu menyebarkan agama
Islam.
Cerpen “Golok”
karya Bokor Hutasuhut ini adalah kisah tentang seorang pendatang yang sedang
menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim untuk berdakwah dan menyebarkan
agama Islam di suatu tempat yang kebanyakan penduduknya masih memeluk
kepercayaan lama daerah setempat yaitu Pelbegu. Pendatang yang dimaksud
adalah “aku” dan ayahnya, Parmanap. Tokoh “aku” adalah orang ketiga serba tahu
yang menceritakan ayahnya.
Parmanap sebagai tokoh utama membawa tugas
yang cukup berat dan tentu saja penuh rintangan terutama dari Ama Ni Ranggas, kepala suku penduduk setempat. Tapi perlahan-lahan ia sanggup
mengatasinya, bahkan Ama Ni Ranggas akhirnya bersedia memeluk
Islam dan memerintahkan penduduknya untuk memeluk Islam sebagaimana yang terdapat pada kutipan berikut:
“Kalian semua menyaksikan, aku kalah. Sebagai lelaki janji harus
ditepati. Kita semua harus rela meninggalkan Pelbegu dan memeluk Islam.
Siapa yang tidak setuju silahkan meninggalkan kampung ini.”
Cerita ini menarik
karena bertemakan ketuhanan dengan berbalut unsur kedaerahan yang sangat
kental. Tema ketuhanan sangat terasa dan mendominasi. Begitu juga sifat-sifat
kedaerahan dengan unsur-unsur mistik yang masih terdapat di dalamnya. Penulis
memang tidak menceritakan secara rinci dimana peristiwa tersebut berlangsung.
Tapi dilihat dari nama-nama tokoh dan asal tempat penulis, dapat diketahui
bahwa cerita tersebut berlatar tempat provinsi Sumatera Utara tepatnya di daerah
pedalaman. Dapat ditebak dari daerah asal penulis,
karena bagaimana pun seorang penulis tidak pernah bisa lepas dari latar
kedaerahannya. Alur yang disajikan pun runtut sehingga pembaca tidak perlu
dipusingkan untuk mencerna alurnya.
Pemilihan judul
yang dilakukan oleh penulis menimbulkan rasa penasaran sekaligus rasa ngeri dan
membuat pembaca bergidik karena menggunakan nama senjata tajam yaitu “GOLOK”.
Cerita yang baik memang seperti itu –yang judulnya menimbulkan rasa penasaran
sehingga menimbulkan rasa ingin membaca. Tapi mengapa golok? Karena memang
senjata khas daerah tersebut adalah golok. Golok sendiri melambangkan
keperkasaan dan kekuatan bagi lelaki.
Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada cerita Nabi Musa
ketika beliau diperintahkan Tuhannya untuk menyeru Fir’aun menyembah Allah.
Tidak beda jauh cara yang digunakan antara
Nabi Musa dan Parmanap –ayah “aku”. Memang seperti tidak masuk akal ketika Nabi
Musa melempar tongkatnya kemudian berubah menjadi ular dan menelan tali-tali
yang diserupakan menjadi ular oleh para penyihir suruhan Fir’aun. Begitu juga
yang dilakukan Parmanap ketika ditantang oleh Ama Ni Ranggas untuk dapat
mengucurkan darah dari tubuh saktinya. Bagaimana mungkin tubuh yang tidak
mempan oleh senjata tajam ternyata dapat terluka oleh batangan padi? Yang
dialami Parmanap disebut karomah, sedangkan yang dialami Nabi Musa disebut
mukjizat. Yang membedakan lagi adalah akhir dari ceritanya. Dalam kisah Nabi
Musa, Fir’aun tetap tidak mengikuti ajaran Nabi Musa.
Sedangkan dalam cerita ini, tokoh Ama Ni Ranggas menepati janjinya untuk
meninggalkan kepercayaan lamanya dan mengikuti agama yang dianut oleh Parmanap.
Namun secara garis besar, cerita keduanya hampir sama yaitu dalam rangka
menyebarkan agama tauhid. Kemungkinan besar, penulis terinspirasi dari kisah
Nabi Musa.
Dengan menulis cerita ini, penulis juga termasuk berdakwah.
Berdakwah lewat tulisan.
Cerpen GOLOK dimuat dalam majalah HORISON
edisi Juli 2013.
Jogja,
16 Oktober 2013
Api Kecil Katamu?
Sekali
lagi, aku kehilangan
Seharusnya
ini bukan kehilangan yang besar
Karena mendapatkannya adalah ketidaksengajaan
Percayalah,
aku tak bermaksud menyia-nyiakannya
Ini
hak
Ketika
sebuah benda ada di tangan kita, antara menjaga, menjatuhkan, melempar, atau
menyimpannya adalah sepenuhnya hak kita
Lagipula
kau!
Bukankah
dulu sudah kukatakan, aku sudah lelah bermain ”api”
Aku
pernah terbakar
Habis
dan gosong
Hanya
arang yang tersisa
Dan
aku menyesal, seharusnya tidak
Api
yang kau sulut
Kau
lemparkan padaku
Kau
katakan, “Tak apa, itu hanya api yang kecil”
Harusnya otakku waras pada saat itu juga
Maka
aku pasti paham bahwa sekecil apapun api, tetap mampu memicu kebakaran
Dan
kulemparkan api itu ke bajumu
Agar
kau rasa akibat dari api kecil yang kau remehkan
Hanya
api,
Seharusnya
bukan
Apa?
Api kecil katamu?
Yogyakarta,
4 November 2013
URANUS (note lama)
Sedang minus
Sedang kekurangan
vitamin penambah semangat
Malas
semalas-malasnya
Aku sedang berada di
luar garis edar
Menggila
Merusak semua
tatanan harusnya tertata rapi
Mengobrak-abrik
orbit yang semestinya
Atau memang inilah
aku?
Uranus
Lelah Ya Allah
Kembalikan aku ke
suasana yang tertata rapi
Cukup lama menggila,
dan aku bosan
Satukan aku dalam
jasadku yang dulu
Jasad yang terpaksa
dan terkekang
Karena tak ada
pembebasan
Di tempat yang bebas
Yogyakarta, 11
November 2013
Lomba Essai (pikirku)
Ini adalah tulisan tentang keunikan
pondok pesantren Al-Barokah yang saat ini sedang kutempati. Tulisan yang membuat
kepalaku pening akibat masalah jangka panjang yang ternyata ditimbulkan terkait
hal ini.
Kontes Miss Alba, katanya.
Tentang
pesantren yang sedang saya tempati, satu halaman hanya cukup membicarakan dua hal
yang menurut saya paling unik di sini. Yang pertama adalah penataan gedung yang
belum pernah saya dapati di pesantren lain. Awalnya sempat teracuni pikiran
negatif ketika pertama kali datang ke sini. Bagaimana pondok putri dan pondok
putra hanya terpisah beberapa langkah dengan tanpa ada pagar atau penghalang
yang membatasi antara dua jenis yang rawan tersebut? Apakah kondisi ini tidak
mengundang berbagai pemasalahan santri yang kaitannya dengan masalah
ajnabiyyah? Biasanya, di pesantren-pesantren lain yang letak bangunannya
berjauhan saja masih sering kecolongan, bagaimana dengan penataan seperti ini?
Itu awalnya. Seiring pengamatan
saya, ternyata di pondok ini nyaris tidak terjadi seperti apa yang saya
pikirkan. Bahkan banyak sekali antara santri putri dan santri putra tidak
saling mengenal. Bagaimana terjadi kasus kalau mengenal pun tidak. Mengingatkan
saya pada qoidah, “Al amru idza dhoqot ittasa’at, wa idzat-tasa’at dhoqot”. Sesuatu apabila
dibatasi justru akan meluas dan jika diperluas justru semakin terbatas. Inilah
bukti yang nyata yang membuka mata saya untuk lebih banyak beajar dari realitas, menilai lebih
kepada substansi bukan fisik belaka.
Yang
kedua, biasanya di pesantren salaf hanya ada dua penjurusan, kalau tidak
tahfidzul Qur’an ya pematangan kitab kuningnya. Kalau di sini dua-duanya
menjadi komponen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Santri yang mau
belajar kitab wajib menghafal Qur’an (meskipun juz terakhir saja), begitu pula
santri yang menghafal Qur’an pun wajib belajar kitab. Belajar kitabnya juga
unik. Kebanyakan kitab yang diajarkan adalah kitab-kitab dasar dan pemula.
Namun materi dan pelajaran yang didapat bukan sebatas pelajaran tingkat awal
maupun tingkat akhir. Yang didapatkan justru lebih luas dan dalam dari pada
sekedar tingkatan-tingkatan.
Semoga tak ada yang sia-sia memilih
Al-Barokah menjadi tempat berpijak dan sarana
melangkah untuk masa depan. Percaya barokah dapat membantu? Tentu saja,
santri gitu loh!
Tiada kesuksesan tanpa kemauan, usaha, doa, dan
ridho Allah.
Langganan:
Komentar (Atom)